Artikel · Praktik · 18 Juni 2026 · 2 menit baca
Membangun di Yogyakarta: yang harus dilupakan seorang arsitek Korea
Dua puluh tahun praktik di Korea tidak menyiapkan saya untuk rapat lapangan yang dimulai dengan hujan, berakhir dengan hujan, dan tanpa satu pun gambar kerja.
Ketika saya pindah ke Yogyakarta pada Juli 2022, saya mengira bagian tersulitnya adalah bahasa. Ternyata bukan. Bagian tersulit adalah bahwa setiap asumsi yang saya bangun selama dua puluh tahun praktik di Korea melekat pada sebuah sistem — rantai pasok, kumpulan detail standar, pemahaman bersama tentang apa arti "selesai" — dan sistem itu tidak ikut pindah.
Gambar adalah percakapan, bukan perintah
Di Korea saya bisa menerbitkan sebuah detail dan berharap detail itu dibangun persis seperti gambar. Di sini, gambar adalah awal dari diskusi dengan tukang yang benar-benar akan mengerjakannya. Selama kira-kira enam bulan hal itu membuat saya frustrasi. Setelah itu, ia menjadi bagian paling berguna dari seluruh proses.
Para tukang di Yogyakarta tahu hal-hal tentang perilaku material lokal yang tidak tertulis di mana pun. Kayu jati yang belum kering sempurna akan bergerak. Semen lokal mengeras berbeda di musim hujan. Kalau Anda menerbitkan detail lalu pergi, Anda mendapat detail yang gagal dalam delapan belas bulan. Kalau Anda duduk dan menggambarnya ulang bersama-sama, Anda mendapat sesuatu yang lebih baik daripada yang Anda spesifikasikan.
Hujan adalah program, bukan kondisi cuaca
Di Seoul, hujan adalah risiko jadwal. Di Yogyakarta, hujan adalah alasan keberadaan bangunan itu sendiri. Setiap tritisan, setiap ambang, setiap talang harus bekerja untuk curah hujan yang datang dalam empat menit dan menumpahkan air lebih banyak daripada topan di Korea.
Ini mengubah cara saya merencanakan. Ruang luar beratap — teras, beranda dalam, selasar di antara dua massa — berhenti menjadi tambahan yang manis dan berubah menjadi ruang utama. Di kedua villa yang telah kami selesaikan di sini, terasnya adalah ruang tempat keluarga benar-benar hidup.
Yang tetap terbawa
Tidak semuanya harus dilupakan. Praktik Korea sangat ketat soal urutan kedatangan: di mana Anda melepas alas kaki, di mana permukaan tanah berubah, di mana Anda boleh melihat ke dalam rumah dan di mana tidak. Cara berpikir itu bekerja dengan sangat baik di rumah tropis. Ia hanya perlu diberi atap.
Saya masih belajar. Tetapi rumah-rumah ini menjadi lebih baik justru karena saya berhenti menganggap saya sudah tahu.